ReLIFE: Kala Kesempatan Kedua Hadir dalam Hidup

Arata Kaizaki berhasil masuk perguruan tinggi setelah berjuang satu tahun, dan langsung melanjutkan S2 setamat S1-nya karena tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup. Baru tiga bulan bekerja, Ia berhenti karena tidak tahan dengan suasana kantornya. Kini, umurnya sudah menginjak 27, namun tidak ada apapun yang bisa Ia banggakan. Pengalaman kerja yang minim membuatnya sulit diterima di mana-mana. Orangtuanya mendesak untuk menghentikan kiriman biaya hidup.

Di saat yang genting itu, Ryou Yoake datang menawarkan pekerjaan berbasis proyek pada Arata. Durasinya setahun. Misinya adalah hidup kembali sebagai siswa SMA kelas 3. Inilah ReLIFE.

ReLIFE adalah sebuah komik yang sebelumnya diterbitkan pada aplikasi Comico, lalu berhasil meraih kesempatan animasi musim lalu. Di Indonesia, komik ini diterbitkan oleh Katalisku. Ulasan ini akan terdiri dari tiga bagian: mengenai kisah ReLIFE sendiri secara umum, mengenai versi Bahasa Indonesia Katalisku, kemudian kritik karakter dan plot ReLIFE yang mengandung spoiler. Silakan hindari bagian ketiga jika belum membaca.

Adakah Yang Ingin Kau Ubah dari Hidupmu?

Premis ReLIFE bukan sesuatu yang baru di kalangan penggemar komik dan animasi. Kesempatan kedua, obat yang membuatmu terlihat muda kembali, karakter utama yang awalnya beban hidup, janji masa muda yang berkilau dan bergelora… semuanya memang sudah umum digali. Apa yang membuat ReLIFE bersinar?

Karakter-karakternya.

ReLIFE bukanlah cerita tentang penyelamatan dunia. Bukan cerita skala besar dengan ancaman mengerikan. Bukan kisah fantasi nan ajaib. Ini hanyalah kisah pergumulan hidup sejumlah anak manusia, tentang mereka yang mencari arah dalam perjalanan mereka, dan tentang kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Selain Ryou Yoake, Kaizaki Arata yang bersekolah kembali menemukan pribadi-pribadi menarik yang akan mewarnai kehidupannya selama setahun. Chizuru, gadis dingin yang baik hati namun kikuk, An sang gadis pindahan yang luar biasa ceria, Rena yang harga dirinya tinggi, Ohga si polos yang cerdas, Ibu Guru Kokoro yang masih muda namun berjuang keras… Masing-masing mengajarkan Arata sesuatu, menariknya keluar dari kungkungan masa lalu yang masih terus menahannya semenjak kejadian yang membuatnya keluar dari pekerjaan pertamanya. Pelan-pelan pula, rahasia terkuak.

Interaksi karakter dalam ReLIFE sangat menyenangkan. Walaupun awalnya terlihat ada banyak karakter, ternyata mereka semua mendapat porsi cerita yang lumayan pas sehingga perkembangan mereka seiring cerita menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Ini kisah Arata, juga kisah anak-anak SMA yang belajar mengenal dunia. Adegan-adegan dramatis dipadu humor gila-gilaan sehingga tidak membosankan. Percintaan khas remaja tentu ada, namun tidak sampai mengambil alih tempat yang tidak semestinya.

ReLIFE adalah sebuah hiburan yang menyenangkan bagi orang-orang yang butuh penyegar dari kisah-kisah kelam, atau butuh penyemangat dalam menjalani hari-hari.

Hei, Aku Juga Ingin Berbagi Kisah

Sebelumnya saya pernah membahas Narcissu terbitan Katalisku, yang kualitasnya lumayan walau tidak terlalu mengesankan (plus di kemasan, minus di terjemahan). Paling tidak, saya tidak kapok. Sejujurnya saat saya melihat ReLIFE terpajang di Gramedia, saya langsung mengambilnya walau tahu harganya pasti lebih tinggi dari komik biasa (maklum, penerbit kecil). Namun, alangkah kagetnya saya ketika melihat harga satu bukunya Rp 72.000 (!), angka yang luar biasa untuk komik terjemahan. Apalagi, dari luar tidak terlihat perbedaannya dari komik biasa selain tebalnya yang sedikit berlebih. Terintimidasi, saya menjadi ragu. Untunglah orang yang bersama saya akhirnya membelinya.

Untung?

relife-cover

Buku pertama, menampilkan Arata dan Chizuru

Ya, saya harus mengatakan harga Rp 72.000 itu, walau tinggi, pantas dengan kualitasnya. Sampul dan kertas menggunakan bahan yang sama dengan novel ringan yang sebelumnya saya puji, dan isinya, walau mungkin tidak terlalu terlihat ketika masih bersegel, berwarna. Seperti aslinya di Comico. Buku ini indah.

Yang lebih mengagumkan adalah isinya. Terjemahan dilakukan dengan amat rapi, tidak harfiah, dan sesuai konteks. Dialog terdengar mengalir dan cocok dengan karakter yang mengucapkannya. Saya sungguh terpana, karena kualitasnya bahkan jauh di atas kebanyakan rilis Elex dan M&C beberapa tahun belakangan.

Serial ini layak dibeli. Inilah alasan saya menulis ulasan ini, sebab saya yakin bukan saya sendiri yang kaget oleh harga yang tercantum.

Sempurna? Ya tentu tidak. Dua hal yang mungkin jadi nilai negatif adalah bahan kertas dan sensor. Kertas yang digunakan adalah kertas ringan novel impor, yang khas berwarna agak krem/kuning (tidak putih cerah seperti HVS atau buram seperti kertas koran). Akibatnya, cetakan warna mungkin terlihat lebih gelap dari sebenarnya. Bagi saya pribadi hal ini tidak terlalu mengganggu, tapi jika anda tergolong ‘pemilih’ soal ini, mungkin patut diingat agar tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi.

Kedua, tentang sensor, Katalisku menggunakan sistem sensor yang unik (dan sepertinya menyusahkan juga untuk mereka) dengan menempeli stiker di setiap panel yang menggambarkan rokok Arata. Stiker ini bisa dicabut dengan mudah asalkan lemnya belum meleleh dan menempel erat ke kertas, tapi akan meninggalkan bekas lengket kalau sudah terlanjur tertempel lama. Mungkin ini jalan tengah yang mereka ambil daripada harus mengubah gambar asli, namun tetap saja kelihatan mencolok karena stiker-stiker ini semi-transparan (sehingga anda masih bisa melihat tangan yang memegang rokok di belakangnya). Makin aneh kalau dipikir ReLIFE sendiri lebih bisa dinikmati pembaca yang sudah agak dewasa (walau tidak ada adegan yang eksplisit). Sebenarnya menyasar pasar apa? Atau ini dilakukan sekadar agar lolos sensor ibu-ibu overprotektif?

Saya sungguh berharap Katalisku dapat mempertahankan kualitas setingkat ini hingga buku-buku berikutnya. Saya jadi sangat bersemangat mengoleksi.

Kau Tidak Bisa Berharap Bahagia Setiap Hari, Bukan?

Warning: Spoiler starts here

Saya menikmati jalinan cerita yang disuguhkan ReLIFE dan hubungan para tokohnya. Sederhana, namun tetap rapi. Inilah yang saya anggap kekuatan. Terutama, saya menyukai Chizuru yang tampil sebagai gadis remaja yang sulit menempatkan diri dalam lingkungan sosial, namun sebenarnya sangat berusaha. Chizuru yang sangat harfiah seringkali memunculkan situasi jenaka, dan ekspresinya mengesankan. Sangat menggemaskan!

Sayangnya, kisah ReLIFE juga runtuh oleh tokoh Chizuru.

Pengungkapan besar di akhir babak pertama, bahwa Chizuru adalah subjek pertama Ryou yang gagal, di satu sisi menarik. Di sisi lain, fakta ini mengacaukan kerapian cerita sebelumnya dan merusak otentiknya kepribadian Chizuru.

Kenapa?

Pertama, di awal dikatakan bahwa Ryou sudah bersekolah selama dua tahun. Namun, Chizuru punya sejarah dari tahun pertama. Dengan kata lain, Chizuru sudah menjadi anak SMA sebelum Ryou menjadi pengawas. Chizuru jelas tidak diberi kesempatan mengulang sampai dua kali.

Kedua, kikuknya Chizuru dan sikapnya yang sangat polos jadi sulit dipercaya bila dia ternyata memang sudah berumur 20-an tahun. Hal ini jadi mengesankan bahwa Chizuru yang ditemui Arata bukanlah ‘Chizuru’, namun sekadar topeng yang Ia tampakkan. Dengan demikian, semua interaksinya dengan Arata dan karakter-karakter lain seolah tidak berarti.

Chizuru mungkin saja memang ‘buta’ hubungan antarmanusia sebagai orang dewasa, namun dari awal komik banyak sekali adegan yang menempatkan Chizuru dalam situasi yang rasanya ganjil tidak pernah dia temui sebelumnya jika memang dia sudah mencapai umur 20-an ini. Dia sungguh-sungguh terlihat polos.

Saya belum tahu apakah selanjutnya akan ada penjelasan tentang hal-hal kontradiktif ini, tetapi selama poin ini belum tersentuh, saya merasa terganjal menikmati serial ini seperti sebelumnya.

Akhir Kata, Sampai Jumpa!

Ya, demikian ulasan ini berakhir sampai di sini. Terima kasih sudah membaca, dan bila tertarik, tidak ada salahnya membeli. Siapa tahu, kali lain giliran judul yang anda sukai untuk terbit legal di sini.

Cloverlines: Dunia Maya Menginjak Dunia Nyata

Cloverlines adalah komik garapan SCROLL DOWN COMICS (Ash, asteRiesling, Ellinsworth) yang kini tengah dirilis dalam bentuk webtoon pada platform besutan Line serta webcomic di Tapastic. Komik yang mengisahkan petualangan band antargalaksi ini mengusung konsep yang menarik, walau tidak baru. Seluruh lagu yang muncul dalam cerita dapat didengarkan melalui beragam layanan, seperti Bandcamp dan Soundcloud, dan para karakter kerap muncul dalam media sosial Cloverlines seolah mereka merupakan eksistensi yang nyata.

Kali ini, Cloverlines akan muncul secara fisik dalam bentuk komik cetak dan album lagu. POPCON ASIA Jakarta 2016 menjadi ajang peluncuran kedua media. Pada perhelatan ini, SCROLL DOWN COMICS juga akan mengadakan sesi review karya yang berkaitan dengan cerita dan ilustrasi.

Berikut rilis resmi dari SCROLL DOWN COMICS:

———-
Jakarta, 4 Agustus 2016 – Setelah band indie konseptual Shorthand Phonetics berpisah jalan di tahun 2015, ketua sekaligus penulis lagu Ababil “Ash” Ashari yang awalnya berencana pensiun dari dunia seni akhirnya memutuskan untuk melanjutkan berkarya.

“Saya merasa sangat gelisah,” ujar Ash di masa-masa vakum pada awal tahun 2015. “Musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya bertahun-tahun dan sekarang saya kehilangan musik saya. Saya mencoba bermain game online, tetapi tidak bisa mengisi kehampaan. Hal yang terpenting mengenai musik […] kita harus punya band, ya gak? Punya band, latihan, lalu mentas? Proses menuju ke sana itu bikin capek, nggak ada tenaga lagi buat bikin musiknya! Lagian, saya BENCI menyanyi! Ha ha! Jadi saya nyari cara membuat musik tapi yang nggak usah pakai promo-promo live performance, biar lebih efisien tenaganya.”

Kemudian datanglah asteRiesling a.k.a. Karina Chandra. Seorang penulis sekaligus ilustrator yang telah menjadi bagian dari komunitas Vocaloid Bandung sejak awal, Karina juga telah menerbitkan karya-karya self-published dengan dukungan dari Genshiken ITB. Dikenal sebagai sosok yang senang bergaul, dia memiliki banyak teman dari berbagai bidang.

“Saat awalnya saya mengikuti komunitas pop culture Indonesia, saya bergaul dengan fans Vocaloid,” ujar Karina mengenai lingkungan sosialnya. “Belakangan ketika saya punya teman-teman komikus, penulis cerita, dan musisi, saya jadi kepikiran kalau kayaknya bakal keren kalau semuanya bikin sesuatu bareng-bareng. Bisa ada kolaborasi ilustrator dan penulis, ilustrator dan musisi, ilustrator dan Vocaloid, penulis dan Vocaloid.”

Ash dan Karina yang bertemu di Facebook melalui teman bersama di komunitas musik dan pengembangan video game, menemukan kesamaan melalui kegemaran mereka terhadap drama musikal ‘Chicago’ dan ‘Les Misérables’. Mereka berdua pun bercita-bercita membuat karya musikal bersama.

“Jadi ya saya bilang, ‘yuk!’ Punya teman yang kira-kira bisa diajak?”

Ababil mengajak gitaris The Colour Mellow dan r e k a h, Marvin Saliechan. Sedangkan Karina mengajak engineer Vocaloid sekaligus penulis, Rekkazan a.k.a. Ayyub Mustofa. Dan begitulah CLOVERLINES tercipta!

karakter Cloverlines

[sebagian karakter CLOVERLINES, dari kiri ke kanan: RINNE (mesin drum), Damon Atkins (bas), Aimi Hoshikawa (vocal, gitar), Yuuki’Jung (gitar), Monica Pascal (multi-instrumen), art: Yami Youichii]

Proyek ini terdiri dari webcomic sci-fi slice-of-life musical yang saat ini masih diterbitkan di LINE Webtoons dan Tapastic berjudul “Cloverlines” serta produksi album musik yang merepresentasikan musik dari band dalam cerita, menggunakan vocaloid GUMI sebagai “suara” utama CLOVERLINES.

“Orang kan sudah kenal Hatsune Miku, suaranya sudah mendunia sekarang. Bahkan Anamanaguchi pakai dia lho!” ujar Ash mengenai Vocaloid paling tenar saat ini. “Kami sempat mempertimbangkan Miku untuk CLOVERLINES, tapi saat saya dengar GUMI pertama kali, kami langsung tahu bahwa dia yang harus kami pakai. Rasanya cocok aja gitu!”

GUMI, atau Megpoid Native dan Megpoid English, adalah sebuah program voice synthesizer yang menggunakan sampel dari bank sampel suara untuk menyuarakan frasa yang dimasukkan pengguna. Bank suara GUMI berasal dari aktris keturunan Filipina-Jepang Megumi Nakajima. Perangkat lunaknya sendiri dijual sebagai VST (virtual studio technology – teknologi pengolahan musik digital) sebagaimana alat musik virtual berbasis sampel pada umumnya

“Jadi, dari sana judul albumnya berasal. Kami mau menghormati asal suaranya,” jelas Ash.

Setelah kerja keras selama setahun, penulisan lagu dengan pemain drum Garbanu Priaduaja; instrumentalis asal Logic Lost, Dylan Amirio; dan penulis musik independen Olivia Sim, serta keluarnya Rekkazan dan Marvin untuk fokus kepada proyek pribadi masing-masing, Ash dan Karina siap merilis pernyataan perdana dari CLOVERLINES.

image

“Kalau tentang komiknya sendiri… saya bangga, tentunya. Saya percaya komik dan musiknya akan berpadu menyajikan pengalaman yang tidak ada duanya untuk para pembaca dan pendengar. Pokoknya pasti puas,” janji Ash. “Gorillaz [band virtual berisi anggota fiktif dengan musik sungguhan] karya Damon Albarn itu inspirasi utama kami. Saya sampai menamai satu karakter dari namanya! Tapi saya penasaran akan seperti apa kalau dia lebih mengembangkan cerita mengenai 2-D [anggota utama Gorillaz] dan yang lain…jadilah ini sebagai eksperimennya! Tambahan lagi saya jadi nggak usah nyanyi, saya hepi banget!”

Album debut Cloverlines dalam format CD, “meGumi: a Tone Poem” dan komik “CLOVERLINES in HELLO WORLD” akan segera dirilis pada tanggal 12 Agustus 2016 di acara POPCON ASIA 2016 yang diadakan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Indonesia. Album dan komik Cloverlines juga dapat dinikmati secara digital di cloverlines.com.

Tidak lupa, musiknya tersedia di iTunes dan Spotify.
———-
Anda dapat menikmati secuplik album tersebut dalam video ini:

Secara pribadi, beberapa lagu berbahasa Inggris masih terkesan aneh dan sebagian besar jenis musik yang digunakan bukan selera saya (walau begitu, saya menerima selera humor pada judul lagu). Lagu yang paling saya sukai di album ini adalah lagu pertama, World of Lies. Usaha kreator dalam menggabungkan selera indie alternatif Amerika terbilang berani dalam ranah Vocaloid yang tersaturasi gaya Jepang. Menilik penerimaan terhadap single sebelumnya “Reach for the Stars”, saya rasa Cloverlines dapat merengkuh penikmat baru dan mereka yang merasa lelah terhadap tren lagu Vocaloid yang ada. Jujur saja, masih agak aneh terdorong bolak-balik dari genre yang saya kenal dan bisa nikmati ke genre yang ‘aneh’ di telinga ketika berpindah dari satu lagu ke lagu lain.

Cloverlines sebagai kisah sendiri juga merupakan karya yang ambisius. Sepotong obrolan dengan sang penulis Ash menunjukkan bahwa saat ini dunia Cloverlines telah direncanakan dengan detil dan ada harapan bahwa kisah dapat berlanjut tak hanya seputar Aimi, namun tokoh-tokoh lain yang mendiami semesta Cloverlines. Dapatkah Cloverlines berkembang menjadi merk mix-media populer menyusul karya-karya lainnya yang sudah lebih dulu sukses dengan konsep ini? Kita lihat saja.