The Dragons are Back

How-To-Train-Your-Dragon-2-how-to-train-your-dragon-35091422-1280-619

A sequel to a movie based loosely on a book. It’s the kind of title that will usually set the red flags in my mind, but glowing reviews I’ve heard on the first movie and the fact that I haven’t read the books ultimately won my curiosity over. At the end, it was a won gamble. At least I left the movie theater feeling so much better than the disappointing Maleficent earlier this month.

How to Train your Dragon 2 opens with a narration about how peace has been established and maintained for five years, dragons now a part of the village of Berk and cherished friends to all. Hiccup, the hero, and his Night Fury dragon Toothless, spend much of their time navigating the skies, exploring to lands far and beyond while practicing mapmaking. One day, following a great dragon race at Berk, Hiccup and Toothless find a place covered in ice. When they go to examine the area, her friend Astrid’s dragon is captured. Someone is gathering a dragon army, and he is not one to toy around with…

hiccup and toothlessAs seen from the promotional posters, the visuals are good. The dragons have their distinct features and many scenes, including the ice lair and the dragon haven are gorgeous. Colorful and bright juxtaposed to the more emotional scenes create a stunning film.

But a movie is not all about visuals. You have heard me rant about plots again and again. HTTYD restores part of my faith. The plot progression, while linear, is mostly logical. The ending part is rushed, probably to avoid leaving a gaping hole for sequel hook, but up to a certain point the pace is nice. Not too slow and not too fast, allowing you to have glimpses of Berk’s life, the changes the past five years had brought, the character traits, the world, and the looming crisis. The script is written with enough wits to highlight the characters’ quirks but not overdoing it into cheap comedy and get  it clever enough to steer you into the narratives.

[spoiler] But the last battle may seem anticlimatic. The enemy alpha does almost nothing to fight back, despite his power to breathe ice massive enough to seriously hurt Berk’s horde of dragons. I’d probably love if they instead cut the movie right after Hiccup got his determination scene, setting up for an epic battle in the sequel. But this way, they don’t leave any loose ends, which is neat when considered differently [end of spoiler].

I am a bit annoyed by Ruffnut, but she’s a good comic relief to many. In one way or another, every character has its turn to shine. Overall, it’s one of the few movies I don’t regret watching. In fact, I’m seriously considering reading the books now.

Dreadout -Pertumbuhan Industri Game Indonesia-

Beberapa tahun terakhir menjadi saksi bagaimana industri game di Indonesia menggeliat. Mulai dari rintisan studio-studio profesional hingga besutan komunitas, semakin terlihat adanya gerakan untuk memajukan posisi kita sebagai kreator, tak melulu konsumer.

Kali ini, Dreadout dari Digital Happiness muncul sebagai game indie yang cukup fenomenal, bukan hanya karena merupakan hasil crowdfunding namun juga berhasil menembus platform ternama Steam. Sudah cukup banyak review berbahasa Inggris yang beredar di internet, tetapi saya belum menemukan satupun yang berbahasa Indonesia. Karena itu, setelah berkesempatan memainkan Act 1 game ini beberapa waktu lalu, saya memutuskan menuliskan ini.

Game ini bercerita tentang seorang siswi SMA bernama Linda, yang dalam perjalanan bersama guru-dan teman-temannya terdampar di sebuah kota kecil yang kosong dan berkabut (bayangkan Silent Hill ala Indonesia). Ketika teman-temannya hilang dalam suatu sekolah tua yang mereka jelajahi, Linda harus berjuang untuk kabur dari kejaran makhluk-makhluk supernatural berbekal sebuah ponsel berkamera.

Mungkin bagi sebagian orang ide ini tidaklah baru. Memang, memburu hantu dengan kamera adalah fitur unik Fatal Frame/Project Zero. Meski demikian, twist di sini adalah bukan kameranya yang ajaib, namun Lindalah yang memiliki kekuatan gaib. Selain itu, hantu-hantu yang menghuni tempat itu adalah hantu-hantu khas Indonesia semacam kuntilanak dan pocong.

Seperti terlihat pada screenshot, perspektif kamera normal adalah dari belakang bahu , namun ketika hendak memotret, maka akan berubah menjadi pandangan orang pertama. Entah mengapa pandangan dari kamera terasa jauh lebih dekat, sehingga perlu waktu untuk membiasakan diri.

Kesan pertama saya terhadap game ini adalah kekaguman terhadap detil grafisnya. Kota tempat mereka tersesat sangat mencerminkan Indonesia terutama Bandung, mulai dari gerobak-gerobak di tepi jalan hingga poster yang bertebaran di dinding. Malah, di salah satu tempat, kami menemukan angkot sewarna Cisitu-Tegallega yang sontak menuai tawa. Berbahagialah sebagai orang Indonesia, karena semua poster dan tulisan bisa dibaca dengan bantuan kamera. Saran saya luangkan waktu untuk berkeliling melihat-lihat, sebab banyak hal menarik yang bisa kamu baca. Salah satunya poster parodi capres-cawapres dan pemilu legislatif 🙂 Satu fitur menarik: foto di kamera Linda bisa disimpan di komputer, sehingga kami menghabiskan beberapa waktu untuk eh…memotret pemandangan. Sejujurnya, untuk ukuran game produksi Indonesia, grafik Dreadout adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Jangan bandingkan dengan game semacam Skyrim, tapi ini sudah berada di skala game PS2. Saya banyak berharap pada game-game berikutnya.

Sayangnya, aspek lain dalam game tidak begitu bagus. Penggunaan soundtrack lumayan, tidak terlalu menonjol tapi cukup mendukung pensuasanaan. Pengisi suara juga tidak buruk, walaupun saya butuh waktu untuk terbiasa dengan naskah bahasa Indonesia yang bergaya ‘gaul’. Lalu di mana masalahnya? Dalam hemat saya, ada dua: plot, serta mekanisme permainan.

Mari kita bahas satu-persatu:

Pertama, plot. Dari ringkasan di atas terlihat bahwa ceritanya tidak terlalu istimewa pada awalnya, dan ketika cerita berlanjut melalui animasi-animasi dalam game, semakin banyak pertanyaan dan masalah yang terjadi. Sejauh ini saya bahkan belum bisa menjawab hal yang paling mendasar: dari mana Linda mendapat kekuatannya, dan bagaimana dia tahu cara memakainya? Kenapa setelah dia menjelajahi sekolah tua itu, dia tidak lagi memikirkan teman-temannya?

Plothole seperti: Kenapa mereka bisa sampai tersesat ke kota itu?

Namun di sisi lain, ada pula pertanyaan-pertanyaan yang diharapkan dapat mendorong cerita ke arah lebih baik, misalnya:

cahaya kehidupan

Siapa Linda? Kenapa dia tidak bisa mati? Ketika kita diserang hantu beberapa kali, Linda akan pingsan dan bangun di sebuah tempat gelap dikelilingi lilin-lilin. Dengan berjalan menuju sumber cahaya yang semakin jauh semakin banyak kita ‘mati’, Linda bisa bangun kembali di titik dia kehilangan kesadaran.

Apa yang sebenarnya terjadi di kota itu?

Karakter sendiri sejauh ini tidak menarik. Saya tidak bisa mengingat nama selain Linda dan Ira, dan Linda sendiripun tidak punya kepribadian yang bisa diingat. Walaupun ini game horor bukannya RPG, karakter dan plot tetaplah penting. Komik Dreadout yang digambar oleh grup komikus Ekyu (Morte, Fix-Up) memberikan sudut pandang lain terhadap kota misterius ini. Menurut komik tersebut, kota misterius ini tetap dihuni dengan sewajarnya dan hanya sekolah itu yang dihantui, sementara di game seluruh kota nampak sudah lama ditinggalkan.

Kedua, mekanisme permainan. Setiap hantu memiliki tatacara ‘pembasmian’ yang berbeda, namun hal ini tidak disinggung sama sekali. Satu-satunya cara adalah trial and error, mencoba berbagai cara terus-menerus. Di awal, tidak ada tutorial sehingga pemain harus mencoba sendiri kontrol dan jeda waktu satu potret ke potret berikutnya. Memang, pemain bisa melihat dasar-dasar penggunaan kamera pada buku catatan Linda, tetapi hal ini tidak banyak membantu.

Kemudian, seperti halnya game semacam ini, kita dituntut untuk mencari berbagai benda untuk memecahkan masalah dan menghindari rintangan. Namun seringnya, apa yang harus dilakukan tidak jelas. Salah satu puzzle mengharuskan kita memotret dari sudut tertentu di titik tertentu, sesuatu yang tidak mungkin terbersit di benak pemain secara normal. Setelah beberapa waktu bermain, kami sudah lupa dengan pensuasanaan dan lebih banyak mengomentari apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kemunculan hantu pun sudah tidak menakutkan lagi. Kasarnya, mengutip teman bermain saya, “Ini Kuso game!” Saya sendiri lebih suka memakai istilah Fake Difficulty. Kami berhasil menamatkan game dalam lima jam, setelah menghabiskan dua jam lebih mencoba membuka pintu menuju ruangan boss. Bahkan dengan membuka Wiki pun, kemungkinan anda masih akan menemui kesulitan yang disebabkan faktor diluar keahlian pemain. Dalam permainan kedua, akhirnya catatan waktu kami di bawah dua jam. Hal ini penting, sebab menarik keluar perhatian pemain dari atmosfer yang sudah dibangun dengan sangat baik. Pada akhirnya, yang mendorong kami menamatkan justru rasa geram dan keinginan untuk cepat-cepat mengakhiri sesi permainan tersebut.

Intinya, ini sesuatu yang tidak akan bisa kamu nikmati ketika bermain sendiri. Ketika ada teman yang bisa berceletuk atau menertawakan kekonyolan dan kesalahan-kesalahan ketika kamu bermain, segalanya jadi sedikit lebih baik. Contohnya ‘tips-tips’ konyol yang muncul ketika kita mengejar cahaya kembali ke kehidupan. Sudahlah jauh (setelah beberapa kali mati muncul komentar ‘bisa pakai taksi saja gak?’ dari seseorang), kamu diberikan kalimat yang menyuruhmu untuk menjauhi narkoba, mempertimbangkan bermain game kasual, dan lain-lain. Kalau bermain sendiri, jelas saya akan berhenti setelah 30 menit. Paling-paling waktu habis untuk mengomel.

Dreadout punya potensi. Begitu juga pengembangnya, Digital Happiness. Saya mengharapkan hal-hal menarik dari kelompok ini di masa yang akan datang. Mungkin saja game ini menjadi awal dari game-game Indonesia lain di Steam. Semoga. Hanya saja, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi sebelum mimpi-mimpi besar itu bisa terwujud. Masihkah meragukan bahwa industri game Indonesia punya masa depan?

Saya dan teman-teman dari Genshiken berencana akan mengadakan sesi main bersama lagi ketika Act 2 dirilis. Nantikan saja.