Narcissu: Sebuah Ulasan Kecil

Sampul depan, dokumentasi penulis

Seorang gadis yang waktunya terhenti, seorang pemuda yang divonis tak tertolong lagi ketika berada di puncak masa mudanya. Keduanya adalah penghuni bangsal mair sebuah rumah sakit yang suatu hari memutuskan bahwa mereka lebih baik menghabiskan hidup dengan melakukan sesuatu ketimbang menunggu ajal tanpa arti. Sang pemuda melihat kesempatan hadir kala kunci mobil sang ayah tertinggal begitu saja, dan malam itu mereka telah berkilo-kilo jauhnya dari ruangan steril dan perawatan 24 jam, siap menyongsong dunia dan mencari jawaban dari apapun yang tersisa untuk mereka di luar sana. Mungkin, untuk pertama dan terakhir kalinya.

Pembaca visual novel mungkin telah akrab dengan ringkasan di atas. Narcissu diangkat dari visual novel dengan judul yang sama dan ditulis oleh sang penulis skenario sendiri. Tomo Kataoka menggabungkan potongan cerita dari bagian pertama dan kedua visual novel tersebut untuk menghadirkan gambaran utuh kepada pembaca yang belum pernah mengenal versi aslinya.

Oleh karena itu, saya akan sepenuhnya berfokus pada Narcissu sebagai sebuah novel, dan penjelasan mengenai latar belakangnya berhenti sampai di sini. Secara khusus, saya hanya akan membahas versi terjemahan Indonesia Narcissu yang diterbitkan oleh label Katalisku dari penerbit PT Eaststar Adhi Citra. Anda dapat membaca perkenalan tokoh dan bahasan cerita yang lebih lengkap di tempat lain.

Katalisku sebelumnya telah menerbitkan beberapa novel ringan Jepang, namun Narcissu menjadi istimewa karena pamor judul aslinya. Penggemar menantikan karya ini, sehingga tak pelak lagi proses penerbitannya harus dilakukan dengan hati-hati.

Pertama-tama, dari segi kemasan, saya merasa penerbit layak mendapat acungan jempol. Baik sampul maupun kertas isi berkualitas baik, meskipun bagi saya pribadi sampul jenis ini (tebal keset) agak sulit dirawat karena rentan ditempeli kotoran. Kertas isinya bahkan lebih tebal dari novel biasa, mengingatkan saya pada novel ringan terbitan YenPress Amerika. Cetakannya jelas dan rapi termasuk pada bagian ilustrasi, ukuran hurufnya enak dibaca, dan ada selipan poster lipat dibalik sampulnya. Hasilnya, buku ini jauh dari kesan murahan.

Namun, apakah tampang adalah segalanya dari sebuah buku? Tidak. Karena itu, sebelum sampai bahasan berikutnya saya ingin memberikan sedikit latar tentang saya sendiri. Saya begitu bersyukur ada penerbit yang akhirnya mencoba lagi ranah novel ringan Jepang, maka saya merasa harus mendukung dengan membeli apabila ada judul yang menarik bagi saya. Narcissu salah satu diantaranya. Setidaknya, membantu sang penerbit tetap ada untuk mencoba judul lainnya, sambil berharap judul-judul kesukaan suatu hari benar-benar terbit di sini. Selain itu, hitung-hitung membayar hutang atas karya yang saya baca secara gratis di internet.

Hanya saja, saya sangat cerewet untuk masalah penerjemahan. Sejauh ini saya lebih memilih membaca dalam bahasa asli, atau setidaknya dalam terjemahan bahasa Inggris untuk hampir semua hal karena lebih sulit mencari terjemahan Indonesia yang berkualitas. Jangankan Jepang-Indonesia, untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia saja sulit mencari penerjemah sekelas almarhum Listiana Srisanti atau penerjemah serial karya Enid Blyton dua hingga empat dekade silam. Seringkali saya urung membeli suatu karya karena takut terjemahannya tidak memuaskan. Namun, kali ini saya luluh. Novel ringan Jepang muncul kembali di Indonesia adalah impian jadi nyata!

…Yuu Atou, dirawat di L7. Begitu juga gadis cantik dengan rambut hitam panjang pasien yang lebih dulu dirawat di sana, Setsumi, golongan darah O, seperti tertera di gelang putih yang dikenakannya, seorang anak perempuan dengan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan karena jantungnya nyaris tak berdetak.

Sepenggal bagian ringkasan yang terpampang di sampul belakang itulah yang hampir membuat saya batal membeli. Salah satu kesalahan utama penerjemahan adalah memaksakan struktur kalimat bahasa sumber dalam bahasa tujuan. Hasilnya adalah kalimat yang sulit sekali dipahami. Apabila kamu berusaha memecah kembali kalimat majemuk tersebut menjadi kalimat-kalimat tunggal, saya yakin kamu gagal.

Kalimat tersebut menurut saya bisa ditata ulang menjadi,”…Yuu Atou, dirawat di L7. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang telah lebih dulu dirawat di sana. Setsumi, golongan darah O seperti tertera di gelang putih yang dikenakannya, adalah seorang anak perempuan dengan ekspresi wajah tidak menyenangkan karena jantungnya nyaris tak berdetak.” Lebih terbaca dengan tetap mempertahankan kata-kata yang sudah ada (dan tentu saja ada opsi untuk membongkar total pilihan katanya).

Seusai membayar, saya membawa pulang buku ini dengan harapan yang amat rendah. Apa yang saya temukan kemudian?

Ternyata kekhawatiran saya terbukti, walaupun kenyataan jauh lebih baik dari bayangan. Secara ringkas penerjemah buku ini hanya butuh penyunting yang baik. Dari segi diksi, berulangkali saya dibuat kagum. Terlihat usaha sang penerjemah mencari padanan kata yang sesuai, bahkan menggunakan kata-kata jitu yang sudah mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari saking tergusurnya oleh padanan bahasa Inggris. Hanya saja, penerjemah perlu mempelajari lagi cara memotong kata yang tidak perlu dalam kalimat. Ada kata hubung yang tidak berperan penting dan dapat dihilangkan tanpa mengubah makna kalimat, namun ada pula yang harus ada agar kalimat menjadi enak didengar. Bila penempatan dan pemotongan kata hubung tidak dilakukan dengan baik, kalimat bisa terasa ‘patah’. Biasanya hal seperti ini ditangkap dalam proses penyuntingan.

Sayangnya, penyuntingan tampak dilakukan setengah hati (bila ada sama sekali). Banyak kata yang ejaannya salah di luar kalimat langsung (penggunaan bahasa tidak baku dalam kalimat langsung secara umum diperbolehkan), pemilihan kata yang salah tempat luput dari perhatian, tanda baca yang masih bermasalah di sana-sini (misalnya memakai titik padahal seharusnya koma, dan sebaliknya), serta yang paling parah adalah membiarkan penataan kalimat ala Jepang sepanjang buku.

Penataan kalimat ala Jepang ini menghasilkan sejumlah kalimat yang ganjil, terutama karena novel ringan Jepang cenderung menggunakan frasa bukannya kalimat utuh. Perlu saya jelaskan bahwa menata ulang kalimat dari sumber itu tidak haram. Bahkan hal ini perlu dilakukan mengingat struktur kalimat dalam suatu bahasa seringkali berbeda dari bahasa lainnya. Penerjemah seharusnya berusaha mengantarkan tafsir makna, bukan semata padanan harfiah. Rombakan yang dirasa perlu untuk menyampaikan ‘rasa’ tulisan dengan akurat bukanlah sebuah dosa terhadap pengarang.

Setidaknya aset utama, penerjemah berkualitas cukup baik, sudah di tangan. Saya harap Katalisku membekali penerjemah dan penyuntingnya dengan pedoman Ejaan yang Disempurnakan untuk terbitan berikutnya, karena kentara sekali dari aturan yang ditabrak di mana-mana. Salah satu yang lucu adalah menggunakan cetak miring untuk tulisan ponsel. Akronim berbahasa Indonesia tidak perlu dicetak miring. Handphone? Ya. Ponsel? Tidak. Ponsel berasal dari penggabungan kata ‘telepon’ dan ‘seluler’. Keduanya adalah kata serapan yang sudah diterima dalam KBBI.

Baiklah. Terlepas dari kritik yang saya lancarkan, tim Katalisku mencapai titik yang memuaskan untuk ukuran penerbit baru dan kecil. Bahkan, penerbit sekelas Mizan dan GPU masih tidak lepas dari kesalahan di atas. Saya percaya di kemudian hari masalah-masalah tersebut dapat teratasi. Saya tidak sepenuhnya puas, tapi paling tidak, saya belum kapok membeli.

Narcissus dalam bahasa bunga berarti ‘cinta diri sendiri’. Ulasan ini adalah bentuk keegoisan saya untuk memenuhi harapan saya membaca novel ringan Jepang favorit saya dalam bahasa ibu yang baik dan benar. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembahasan saya, dan sudilah untuk membetulkan tulisan saya melalui kotak komentar. Terima kasih Katalisku, teruslah maju!

Advertisements

Share your 2 cents!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s