Aku Ingin Mati Dengan Bahagia

Pada hari Senin, Tuhan menciptakan dunia

Semenjak suatu hari lima belas tahun yang lalu, manusia tak lagi bisa mati. Bersamaan dengan itu, tidak ada lagi kelahiran. Sebagai gantinya, Tuhan mengabulkan beberapa permintaan manusia. Satu-satunya cara agar manusia yang telah melampaui usianya dapat lepas dari penderitaan sebagai makhluk abadi setelah proses penuaan menggerogoti adalah dengan ‘dikuburkan’ oleh kaum Penjaga Makam. Lahir dari badai-badai misterius di berbagai belahan dunia, kaum Penjaga Makam terlihat layaknya manusia namun tidak memiliki ekspresi ataupun perasaan.

Sebagai penjelasan agar tidak kebingungan di bagian selanjutnya, meskipun dikatakan ‘manusia tak lagi bisa mati’, kenyataannya adalah penyakit, penuaan sel tubuh, dan pengrusakan fungsi badan yang umumnya menyebabkan kematian tetap ada. Bila hal ini terjadi, orang yang bersangkutan akan ‘mati’, namun jiwanya tidak meninggalkan fisiknya. Badan fisiknya akan perlahan hancur seperti mayat umumnya, diikuti penurunan fungsi otak dan gangguan kejiwaan. Hanya saja, sebelum ‘dikirim’ oleh seorang Penjaga Makam, mereka tidak akan benar-benar hilang. Lama-kelamaan, para mayat hidup ini akan jadi serupa monster tak berakal. Apabila kamu akrab dengan konsep unsent dan sending dalam Final Fantasy X, hal yang sama kira-kira terjadi di sini.

Beberapa orang menghadapi kenyataan bahwa kini orang-orang tercinta mereka masih berada di dunia meski sudah semestinya pergi. Bagaimana menghadapi duka dan melepas kepergian bila sosok mereka masih dapat ditemui? Beberapa orang berusaha melanjutkan hidup ‘setelah mati’. Semua orang hanya ingin bahagia.

Premis yang berat?

Kenyataannya, arahan suasana anime ini begitu berkilau.

Capture

Indah, indah, indah.

Pada hari Selasa, Tuhan memisahkan kekacauan dan keteraturan

Bagi Ai Astin, kebahagiaan adalah kehidupan damai setiap hari di desanya. Meskipun sudah tidak lagi memiliki ibu, Ai dibesarkan dengan penuh kasih oleh warga desa yang lain. Ai menganggap serius peran Penjaga Makam yang diwarisinya dari ibunya, meskipun semenjak dirinya kecil tidak pernah ada orang yang perlu ‘diantarkan’. Suatu hari, seorang asing yang ternyata merupakan ayah Ai datang membantai seluruh warga desanya. Ai yang terguncang dipaksa menyaksikan bahwa seluruh warga desanya memang sudah merupakan orang-orang ‘mati’ yang berusaha melanjutkan hari-hari dengan normal. Serangkaian kejadian mengikuti dalam waktu singkat. Dalam tiga hari, kehidupan Ai berubah dari duduk-duduk menikmati pemandangan dari atas bukit ke menguburkan semua orang yang pernah dikenal dan disayanginya. Termasuk ayahnya yang baru dikenalnya.

Apa beda hidup dan mati?

Apa arti hidup ketika kematian tidak benar-benar ada?

Apa yang bisa dilakukan seorang Penjaga Makam untuk dunia?

Apa itu kebahagiaan?

Terdorong oleh pertanyaan-pertanyaan ini, Ai memulai perjalanannya.

Kontras dari segala kehancuran dan kepahitan yang silih berganti dirasakan para karakternya, adegan demi adegan anime ini indah laksana dongeng peri. Desain karakter yang penuh warna dengan latar belakang pemandangan yang lembut memukau sungguh kontras dengan gelapnya nasib yang menimpa para tokoh dan dunia yang mereka tempati. Perjalanan yang diiringi senyum dan tawa. Keindahan yang sendu. Jarak antara kedua hal ini menghujam perasaan penonton, membuat mereka mau tak mau merasa terenyuh, bahkan mungkin bergidik.

b95df0da142b7802c92cf594d1a9b5f1667bc7a4_00

Apa yang salah dari senyum lembut itu?

Pada hari Rabu, Tuhan berkuasa atas angka-angka

Terdiri atas 12 episode dan satu OVA, Kamisama no Inai Nichiyoubi terbagi atas 4 arc yang mencakup 5 buku pertama novelnya. Meskipun novelnya baru tamat di buku kesembilan, menurut saya penulis skenario anime memilih titik yang tepat untuk mengakhiri cerita.

Arc pertama mengisahkan awal mula Ai meninggalkan desa. Arc kedua menghadirkan kerajaan orang mati yang makmur. Arc ketiga menunjukkan perihal posisi anak-anak di dunia yang rusak ini. Arc terakhir berkisar pada sekelompok siswa yang terjebak dalam waktu.

Masing-masing arc berfokus pada karakter berbeda dan implikasi dari permintaan yang pernah mereka panjatkan pada Tuhan. Tiap arc terdiri dari 3 episode dengan pengecualian pada arc ketiga. Sayang sekali anime ini hanya mendapatkan satu cour. Tiap arc menawarkan topik berbeda yang masing-masing layak mendapatkan penekanan lebih. Terlebih, kisah perjalanan seperti ini akan lebih terasa dengan tempo yang lebih santai, menggali kedalaman tiap bagiannya semaksimal mungkin.

OVA-nya berisikan tiga cerita pendek yang tersebar di latar waktu berbeda dan bertujuan memperkaya latar belakang dan interaksi beberapa karakter.

Capture

Pada hari Kamis, Tuhan memulai waktu

Sejujurnya keputusan saya menonton anime ini dimulai dari klip pembukaannya. Musik dan visualisasi yang begitu mewah dan berkarakter amat cocok dengan suasana yang ingin dihantarkan, sehingga mau tak mau saya tertarik ke dalamnya. Baik lagu pembuka dan penutup melengkapi nuansa yang dibawakan tiap episodenya.

Pada hari Jumat, Tuhan menjelajah tiap sudut ciptaan-Nya

Sebenarnya, selain Ai, ada banyak karakter lain yang muncul dan berperan di tiap arc. Mulai dari Julie yang menjaga Ai sebagai ganti sahabat baiknya yang meninggal, Scar sang Penjaga Makam yang belajar mempunyai perasaan, Ulla putri Ortus yang menjadi paralel Ai, hingga Alice yang ingin menyelamatkan dunia dengan menghancurkannya, setiap karakter punya warna tersendiri.

Namun, dengan fokus pada apa yang mereka alami dan hubungan mereka dengan Ai, bukan pada pemikiran dan perasaan mereka masing-masing, jelas sekali ini bukan kisah mereka.

Ini kisah Ai sebagai saksi dari kisah-kisah mereka.

Pada hari Sabtu, Tuhan beristirahat

Sejatinya, Kamisama no Inai Nichiyoubi tidak bercerita tentang petualangan besar yang ambisius. Ini bukan tentang plot berbelit. Sebaliknya, ini adalah kisah sederhana seorang anak yang beranjak dewasa, yang mulai tergoyahkan untuk memastikan pandangannya terhadap dunia, dan melakukan pencarian atas hal-hal yang selama ini dipercayainya. Adegan jadi lebih penting dibicarakan ketimbang alur cerita garis besar.

Karena fokusnya yang tergolong artistik ini, ada banyak hal yang mungkin terasa kurang dalam eksekusi kisah secara keseluruhan. Penonton diharapkan mengisi sendiri kekosongan penjelasan antaradegan, yang mungkin akan membingungkan di beberapa titik. Beberapa kali pula penonton tiba-tiba disuguhkan adegan interaksi karakter tanpa awalan, seperti ketika Ai dan Alice mengobrol pertama kali di menara jam dan di sebuah tempat yang seperti terpisah dari tempat anggota rombongan lainnya.

Latar dunia yang digunakan juga sangat kabur. Di satu sisi, terlihat hal-hal modern di kilas balik seperti dunia kita. Namun, di ‘masa sekarang’, baik dari pakaian karakter, nama-nama, hingga bangunan dan suasananya terasa suasana ala fantasi RPG. Anime ini menggunakan bahasa Prancis untuk kesan eksotis, pemandangan Eropa fantasi, namun beberapa bagian menggunakan konsep budaya Jepang yang cukup kental. Keanehan-keanehan ini menciptakan pengalaman yang kurang utuh namun termaafkan. Mungkin, hal ini akibat dari konsep yang ingin dituangkan sang pengarang dalam prolog novelnya, yakni membuat suasana surealisme dongeng dan cerita rakyat.

Yang tidak termaafkan adalah selera penamaan yang benar-benar…kacau. -_- Di satu sisi ada ‘Ai Astin’, di sisi lain ada…’Alice Color’. Tapi ya sudahlah.

Tempo dari satu arc ke arc lain juga kadang terasa ‘meloncat’ karena pembagian episode yang sangat kaku. Awal Akademi Goran, meski dibawakan sebagai komedi konyol, terasa seperti…hah? Sementara kisah ‘Awal Mula Kaum Penjaga Makam’ yang hanya mendapat tempat satu episode sepertinya terlalu pendek. Akibatnya, seperti disebut di bagian sebelumnya, ada banyak potensi pendalaman karakter yang agak terlewatkan. OVA jadi sangat menyenangkan karena dapat menyentuh lebih banyak sisi pribadi karakter.

Usahanya untuk bertahan dengan elemen ‘manis dan ringan’ juga menghasilkan beberapa masalah yang penyelesaiannya kurang memuaskan, seperti ketika Ai berusaha membujuk Tanya kabur dari Goran. Setelah pembangunan konflik yang menarik, tiba-tiba saja karakter lain berubah pikiran mengikuti kehendak Ai. Secara pribadi, anime ini mengingatkan saya pada ef~A Tale of Memories.

Captured

Adegan bagus, sih, tapi um… ini… di mana? Dunia milik berdua? xD

Pada hari Minggu, Tuhan meninggalkan dunia

Ini bukan tontonan yang mudah dinikmati semua orang. Namun, jika kamu jenis orang yang suka kisah-kisah halus mengalir dibumbui nuansa sok filosofis, atau senang dibunuh pelan-pelan oleh keindahan berlebihan, bersiaplah untuk terpana. Anime ini bukan tanpa cacat, namun saya berakhir amat sangat menyukainya. Ada banyak hal yang sulit dijelaskan sehingga lebih baik ditonton sendiri. Kamisama no Inai Nichiyoubi membawakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang dibalut kemasan cerah ceria. Dia tidak memberikan jawaban, hanya lebih dan lebih banyak bahan renungan. Mendalam namun tetap ringan, seolah menunjukkan bahwa, terlepas dari semua masalah, pada akhirnya kehidupan hanya perlu dijalani apa adanya. Seperti kata Hampnie Hambert, untuk tetap hidup maka kamu hanya perlu berpikir ingin hidup. Tak lain.

 

Advertisements

ReLIFE: Kala Kesempatan Kedua Hadir dalam Hidup

Arata Kaizaki berhasil masuk perguruan tinggi setelah berjuang satu tahun, dan langsung melanjutkan S2 setamat S1-nya karena tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup. Baru tiga bulan bekerja, Ia berhenti karena tidak tahan dengan suasana kantornya. Kini, umurnya sudah menginjak 27, namun tidak ada apapun yang bisa Ia banggakan. Pengalaman kerja yang minim membuatnya sulit diterima di mana-mana. Orangtuanya mendesak untuk menghentikan kiriman biaya hidup.

Di saat yang genting itu, Ryou Yoake datang menawarkan pekerjaan berbasis proyek pada Arata. Durasinya setahun. Misinya adalah hidup kembali sebagai siswa SMA kelas 3. Inilah ReLIFE.

ReLIFE adalah sebuah komik yang sebelumnya diterbitkan pada aplikasi Comico, lalu berhasil meraih kesempatan animasi musim lalu. Di Indonesia, komik ini diterbitkan oleh Katalisku. Ulasan ini akan terdiri dari tiga bagian: mengenai kisah ReLIFE sendiri secara umum, mengenai versi Bahasa Indonesia Katalisku, kemudian kritik karakter dan plot ReLIFE yang mengandung spoiler. Silakan hindari bagian ketiga jika belum membaca.

Adakah Yang Ingin Kau Ubah dari Hidupmu?

Premis ReLIFE bukan sesuatu yang baru di kalangan penggemar komik dan animasi. Kesempatan kedua, obat yang membuatmu terlihat muda kembali, karakter utama yang awalnya beban hidup, janji masa muda yang berkilau dan bergelora… semuanya memang sudah umum digali. Apa yang membuat ReLIFE bersinar?

Karakter-karakternya.

ReLIFE bukanlah cerita tentang penyelamatan dunia. Bukan cerita skala besar dengan ancaman mengerikan. Bukan kisah fantasi nan ajaib. Ini hanyalah kisah pergumulan hidup sejumlah anak manusia, tentang mereka yang mencari arah dalam perjalanan mereka, dan tentang kebahagiaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Selain Ryou Yoake, Kaizaki Arata yang bersekolah kembali menemukan pribadi-pribadi menarik yang akan mewarnai kehidupannya selama setahun. Chizuru, gadis dingin yang baik hati namun kikuk, An sang gadis pindahan yang luar biasa ceria, Rena yang harga dirinya tinggi, Ohga si polos yang cerdas, Ibu Guru Kokoro yang masih muda namun berjuang keras… Masing-masing mengajarkan Arata sesuatu, menariknya keluar dari kungkungan masa lalu yang masih terus menahannya semenjak kejadian yang membuatnya keluar dari pekerjaan pertamanya. Pelan-pelan pula, rahasia terkuak.

Interaksi karakter dalam ReLIFE sangat menyenangkan. Walaupun awalnya terlihat ada banyak karakter, ternyata mereka semua mendapat porsi cerita yang lumayan pas sehingga perkembangan mereka seiring cerita menjadi hal yang menarik untuk diikuti. Ini kisah Arata, juga kisah anak-anak SMA yang belajar mengenal dunia. Adegan-adegan dramatis dipadu humor gila-gilaan sehingga tidak membosankan. Percintaan khas remaja tentu ada, namun tidak sampai mengambil alih tempat yang tidak semestinya.

ReLIFE adalah sebuah hiburan yang menyenangkan bagi orang-orang yang butuh penyegar dari kisah-kisah kelam, atau butuh penyemangat dalam menjalani hari-hari.

Hei, Aku Juga Ingin Berbagi Kisah

Sebelumnya saya pernah membahas Narcissu terbitan Katalisku, yang kualitasnya lumayan walau tidak terlalu mengesankan (plus di kemasan, minus di terjemahan). Paling tidak, saya tidak kapok. Sejujurnya saat saya melihat ReLIFE terpajang di Gramedia, saya langsung mengambilnya walau tahu harganya pasti lebih tinggi dari komik biasa (maklum, penerbit kecil). Namun, alangkah kagetnya saya ketika melihat harga satu bukunya Rp 72.000 (!), angka yang luar biasa untuk komik terjemahan. Apalagi, dari luar tidak terlihat perbedaannya dari komik biasa selain tebalnya yang sedikit berlebih. Terintimidasi, saya menjadi ragu. Untunglah orang yang bersama saya akhirnya membelinya.

Untung?

relife-cover

Buku pertama, menampilkan Arata dan Chizuru

Ya, saya harus mengatakan harga Rp 72.000 itu, walau tinggi, pantas dengan kualitasnya. Sampul dan kertas menggunakan bahan yang sama dengan novel ringan yang sebelumnya saya puji, dan isinya, walau mungkin tidak terlalu terlihat ketika masih bersegel, berwarna. Seperti aslinya di Comico. Buku ini indah.

Yang lebih mengagumkan adalah isinya. Terjemahan dilakukan dengan amat rapi, tidak harfiah, dan sesuai konteks. Dialog terdengar mengalir dan cocok dengan karakter yang mengucapkannya. Saya sungguh terpana, karena kualitasnya bahkan jauh di atas kebanyakan rilis Elex dan M&C beberapa tahun belakangan.

Serial ini layak dibeli. Inilah alasan saya menulis ulasan ini, sebab saya yakin bukan saya sendiri yang kaget oleh harga yang tercantum.

Sempurna? Ya tentu tidak. Dua hal yang mungkin jadi nilai negatif adalah bahan kertas dan sensor. Kertas yang digunakan adalah kertas ringan novel impor, yang khas berwarna agak krem/kuning (tidak putih cerah seperti HVS atau buram seperti kertas koran). Akibatnya, cetakan warna mungkin terlihat lebih gelap dari sebenarnya. Bagi saya pribadi hal ini tidak terlalu mengganggu, tapi jika anda tergolong ‘pemilih’ soal ini, mungkin patut diingat agar tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi.

Kedua, tentang sensor, Katalisku menggunakan sistem sensor yang unik (dan sepertinya menyusahkan juga untuk mereka) dengan menempeli stiker di setiap panel yang menggambarkan rokok Arata. Stiker ini bisa dicabut dengan mudah asalkan lemnya belum meleleh dan menempel erat ke kertas, tapi akan meninggalkan bekas lengket kalau sudah terlanjur tertempel lama. Mungkin ini jalan tengah yang mereka ambil daripada harus mengubah gambar asli, namun tetap saja kelihatan mencolok karena stiker-stiker ini semi-transparan (sehingga anda masih bisa melihat tangan yang memegang rokok di belakangnya). Makin aneh kalau dipikir ReLIFE sendiri lebih bisa dinikmati pembaca yang sudah agak dewasa (walau tidak ada adegan yang eksplisit). Sebenarnya menyasar pasar apa? Atau ini dilakukan sekadar agar lolos sensor ibu-ibu overprotektif?

Saya sungguh berharap Katalisku dapat mempertahankan kualitas setingkat ini hingga buku-buku berikutnya. Saya jadi sangat bersemangat mengoleksi.

Kau Tidak Bisa Berharap Bahagia Setiap Hari, Bukan?

Warning: Spoiler starts here

Saya menikmati jalinan cerita yang disuguhkan ReLIFE dan hubungan para tokohnya. Sederhana, namun tetap rapi. Inilah yang saya anggap kekuatan. Terutama, saya menyukai Chizuru yang tampil sebagai gadis remaja yang sulit menempatkan diri dalam lingkungan sosial, namun sebenarnya sangat berusaha. Chizuru yang sangat harfiah seringkali memunculkan situasi jenaka, dan ekspresinya mengesankan. Sangat menggemaskan!

Sayangnya, kisah ReLIFE juga runtuh oleh tokoh Chizuru.

Pengungkapan besar di akhir babak pertama, bahwa Chizuru adalah subjek pertama Ryou yang gagal, di satu sisi menarik. Di sisi lain, fakta ini mengacaukan kerapian cerita sebelumnya dan merusak otentiknya kepribadian Chizuru.

Kenapa?

Pertama, di awal dikatakan bahwa Ryou sudah bersekolah selama dua tahun. Namun, Chizuru punya sejarah dari tahun pertama. Dengan kata lain, Chizuru sudah menjadi anak SMA sebelum Ryou menjadi pengawas. Chizuru jelas tidak diberi kesempatan mengulang sampai dua kali.

Kedua, kikuknya Chizuru dan sikapnya yang sangat polos jadi sulit dipercaya bila dia ternyata memang sudah berumur 20-an tahun. Hal ini jadi mengesankan bahwa Chizuru yang ditemui Arata bukanlah ‘Chizuru’, namun sekadar topeng yang Ia tampakkan. Dengan demikian, semua interaksinya dengan Arata dan karakter-karakter lain seolah tidak berarti.

Chizuru mungkin saja memang ‘buta’ hubungan antarmanusia sebagai orang dewasa, namun dari awal komik banyak sekali adegan yang menempatkan Chizuru dalam situasi yang rasanya ganjil tidak pernah dia temui sebelumnya jika memang dia sudah mencapai umur 20-an ini. Dia sungguh-sungguh terlihat polos.

Saya belum tahu apakah selanjutnya akan ada penjelasan tentang hal-hal kontradiktif ini, tetapi selama poin ini belum tersentuh, saya merasa terganjal menikmati serial ini seperti sebelumnya.

Akhir Kata, Sampai Jumpa!

Ya, demikian ulasan ini berakhir sampai di sini. Terima kasih sudah membaca, dan bila tertarik, tidak ada salahnya membeli. Siapa tahu, kali lain giliran judul yang anda sukai untuk terbit legal di sini.