Cloverlines: Dunia Maya Menginjak Dunia Nyata

Cloverlines adalah komik garapan SCROLL DOWN COMICS (Ash, asteRiesling, Ellinsworth) yang kini tengah dirilis dalam bentuk webtoon pada platform besutan Line serta webcomic di Tapastic. Komik yang mengisahkan petualangan band antargalaksi ini mengusung konsep yang menarik, walau tidak baru. Seluruh lagu yang muncul dalam cerita dapat didengarkan melalui beragam layanan, seperti Bandcamp dan Soundcloud, dan para karakter kerap muncul dalam media sosial Cloverlines seolah mereka merupakan eksistensi yang nyata.

Kali ini, Cloverlines akan muncul secara fisik dalam bentuk komik cetak dan album lagu. POPCON ASIA Jakarta 2016 menjadi ajang peluncuran kedua media. Pada perhelatan ini, SCROLL DOWN COMICS juga akan mengadakan sesi review karya yang berkaitan dengan cerita dan ilustrasi.

Berikut rilis resmi dari SCROLL DOWN COMICS:

———-
Jakarta, 4 Agustus 2016 – Setelah band indie konseptual Shorthand Phonetics berpisah jalan di tahun 2015, ketua sekaligus penulis lagu Ababil “Ash” Ashari yang awalnya berencana pensiun dari dunia seni akhirnya memutuskan untuk melanjutkan berkarya.

“Saya merasa sangat gelisah,” ujar Ash di masa-masa vakum pada awal tahun 2015. “Musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya bertahun-tahun dan sekarang saya kehilangan musik saya. Saya mencoba bermain game online, tetapi tidak bisa mengisi kehampaan. Hal yang terpenting mengenai musik […] kita harus punya band, ya gak? Punya band, latihan, lalu mentas? Proses menuju ke sana itu bikin capek, nggak ada tenaga lagi buat bikin musiknya! Lagian, saya BENCI menyanyi! Ha ha! Jadi saya nyari cara membuat musik tapi yang nggak usah pakai promo-promo live performance, biar lebih efisien tenaganya.”

Kemudian datanglah asteRiesling a.k.a. Karina Chandra. Seorang penulis sekaligus ilustrator yang telah menjadi bagian dari komunitas Vocaloid Bandung sejak awal, Karina juga telah menerbitkan karya-karya self-published dengan dukungan dari Genshiken ITB. Dikenal sebagai sosok yang senang bergaul, dia memiliki banyak teman dari berbagai bidang.

“Saat awalnya saya mengikuti komunitas pop culture Indonesia, saya bergaul dengan fans Vocaloid,” ujar Karina mengenai lingkungan sosialnya. “Belakangan ketika saya punya teman-teman komikus, penulis cerita, dan musisi, saya jadi kepikiran kalau kayaknya bakal keren kalau semuanya bikin sesuatu bareng-bareng. Bisa ada kolaborasi ilustrator dan penulis, ilustrator dan musisi, ilustrator dan Vocaloid, penulis dan Vocaloid.”

Ash dan Karina yang bertemu di Facebook melalui teman bersama di komunitas musik dan pengembangan video game, menemukan kesamaan melalui kegemaran mereka terhadap drama musikal ‘Chicago’ dan ‘Les Misérables’. Mereka berdua pun bercita-bercita membuat karya musikal bersama.

“Jadi ya saya bilang, ‘yuk!’ Punya teman yang kira-kira bisa diajak?”

Ababil mengajak gitaris The Colour Mellow dan r e k a h, Marvin Saliechan. Sedangkan Karina mengajak engineer Vocaloid sekaligus penulis, Rekkazan a.k.a. Ayyub Mustofa. Dan begitulah CLOVERLINES tercipta!

karakter Cloverlines

[sebagian karakter CLOVERLINES, dari kiri ke kanan: RINNE (mesin drum), Damon Atkins (bas), Aimi Hoshikawa (vocal, gitar), Yuuki’Jung (gitar), Monica Pascal (multi-instrumen), art: Yami Youichii]

Proyek ini terdiri dari webcomic sci-fi slice-of-life musical yang saat ini masih diterbitkan di LINE Webtoons dan Tapastic berjudul “Cloverlines” serta produksi album musik yang merepresentasikan musik dari band dalam cerita, menggunakan vocaloid GUMI sebagai “suara” utama CLOVERLINES.

“Orang kan sudah kenal Hatsune Miku, suaranya sudah mendunia sekarang. Bahkan Anamanaguchi pakai dia lho!” ujar Ash mengenai Vocaloid paling tenar saat ini. “Kami sempat mempertimbangkan Miku untuk CLOVERLINES, tapi saat saya dengar GUMI pertama kali, kami langsung tahu bahwa dia yang harus kami pakai. Rasanya cocok aja gitu!”

GUMI, atau Megpoid Native dan Megpoid English, adalah sebuah program voice synthesizer yang menggunakan sampel dari bank sampel suara untuk menyuarakan frasa yang dimasukkan pengguna. Bank suara GUMI berasal dari aktris keturunan Filipina-Jepang Megumi Nakajima. Perangkat lunaknya sendiri dijual sebagai VST (virtual studio technology – teknologi pengolahan musik digital) sebagaimana alat musik virtual berbasis sampel pada umumnya

“Jadi, dari sana judul albumnya berasal. Kami mau menghormati asal suaranya,” jelas Ash.

Setelah kerja keras selama setahun, penulisan lagu dengan pemain drum Garbanu Priaduaja; instrumentalis asal Logic Lost, Dylan Amirio; dan penulis musik independen Olivia Sim, serta keluarnya Rekkazan dan Marvin untuk fokus kepada proyek pribadi masing-masing, Ash dan Karina siap merilis pernyataan perdana dari CLOVERLINES.

image

“Kalau tentang komiknya sendiri… saya bangga, tentunya. Saya percaya komik dan musiknya akan berpadu menyajikan pengalaman yang tidak ada duanya untuk para pembaca dan pendengar. Pokoknya pasti puas,” janji Ash. “Gorillaz [band virtual berisi anggota fiktif dengan musik sungguhan] karya Damon Albarn itu inspirasi utama kami. Saya sampai menamai satu karakter dari namanya! Tapi saya penasaran akan seperti apa kalau dia lebih mengembangkan cerita mengenai 2-D [anggota utama Gorillaz] dan yang lain…jadilah ini sebagai eksperimennya! Tambahan lagi saya jadi nggak usah nyanyi, saya hepi banget!”

Album debut Cloverlines dalam format CD, “meGumi: a Tone Poem” dan komik “CLOVERLINES in HELLO WORLD” akan segera dirilis pada tanggal 12 Agustus 2016 di acara POPCON ASIA 2016 yang diadakan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Indonesia. Album dan komik Cloverlines juga dapat dinikmati secara digital di cloverlines.com.

Tidak lupa, musiknya tersedia di iTunes dan Spotify.
———-
Anda dapat menikmati secuplik album tersebut dalam video ini:

Secara pribadi, beberapa lagu berbahasa Inggris masih terkesan aneh dan sebagian besar jenis musik yang digunakan bukan selera saya (walau begitu, saya menerima selera humor pada judul lagu). Lagu yang paling saya sukai di album ini adalah lagu pertama, World of Lies. Usaha kreator dalam menggabungkan selera indie alternatif Amerika terbilang berani dalam ranah Vocaloid yang tersaturasi gaya Jepang. Menilik penerimaan terhadap single sebelumnya “Reach for the Stars”, saya rasa Cloverlines dapat merengkuh penikmat baru dan mereka yang merasa lelah terhadap tren lagu Vocaloid yang ada. Jujur saja, masih agak aneh terdorong bolak-balik dari genre yang saya kenal dan bisa nikmati ke genre yang ‘aneh’ di telinga ketika berpindah dari satu lagu ke lagu lain.

Cloverlines sebagai kisah sendiri juga merupakan karya yang ambisius. Sepotong obrolan dengan sang penulis Ash menunjukkan bahwa saat ini dunia Cloverlines telah direncanakan dengan detil dan ada harapan bahwa kisah dapat berlanjut tak hanya seputar Aimi, namun tokoh-tokoh lain yang mendiami semesta Cloverlines. Dapatkah Cloverlines berkembang menjadi merk mix-media populer menyusul karya-karya lainnya yang sudah lebih dulu sukses dengan konsep ini? Kita lihat saja.